Minggu, 23 Desember 2012

laporan fisiologi hewan tentang Darah



DARAH
(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan I)


Disusun  Oleh
Lestari
1017021012









JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


Judul Percobaan          :  Darah
Tanggal Percobaan      :  22 Oktober 2012
Tempat Percobaan       :  Laboratorium Zoologi 2
Nama                           : Lestari
NPM                           :  1017021012
Jurusan                        :  Biologi
Fakultas                       :  MIPA
Kelompok                   :  3 b




Bandar Lampung, 22 oktober   2012
Mengesahkan
Asisten

Eka Sulvin Aryani
NPM : 0817021028 

I.  PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosi. Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari normal. Anemia bisa juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran atau jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin. Anemia yang paling umum ditemukan di masyarakat adalah anemia gizi besi. Terjadinya anemia gizi besi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kandungan zat besi dalam makanan sehari-hari, penyerapan zat besi dari makanan yang sangat rendah, adanya parasit dalam tubuh seperti cacing tambang atau cacing pita, diare, kehilangan banyak darah akibat kecelakaan atau operasi karena penyakit.
Golongan darah manusia bersifat herediter, dan sangat tergantung pada golongan darah kedua orang tua manusia yang bersangkutan. Saat ini sudah dikenal puluhan sistem golongan darah, namun sistem yang paling umum dikenal di dunia hanya ada beberapa. Di antaranya adalah sistem ABO yang diperkenalkan Karl Landsteiner (1868-1943) pada tahun 1903, sistem Rhesus yang diperkenalkan Landsteiner juga pada tahun 1937, dan sistem MNS (sekretor dan nonsekretor) (Anonim, 2012).
Pemeriksaan mikroskopis sediaan ulas darah perifer adalah cara yang sederhana dan tepat, bilamana hewan masih dalam keadaan sakit atau baru saja mati, selama belum terjadi pembusukan. Kumannya berbentuk batang besar, Gram positif, biasanya tersusun tunggal, berpasangan atau berantai pendek. Tidak terdapat spora. Dengan pewarnaan yang baik dapat dilihat adanya selubung (kapsel) (Anonim,2012).
B.       Tujuan
Tujuan dari percobaan ini  adalah :
1.      Menentukan kadar hemoglobin dalam darh menurut Metode Sahli
2.      Menentukan golongan darah menurut sistem ABO
3.      Mengamati berbagai macam/jenis sel-sel (butir-butir) darah (BDM) yang terdapat dalam preparat ulas darah perifer
4.      Menghitung % berbagai bentuk BDP (leokosit) pada preparat ulas darah perifer. 

II. TINJAUAN PUSTAKA

Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah atau eritrosit, yang memberi warna merah pada darah. Hemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin. Metode Sahli tidak dianjurkan karena memiliki kesalahan yang besar, alatnya tidak dapat distandardisasi, dan tidak semua jenis hemoglobin dapat diukur, seperti sulfhemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin. Dua metode yang lain (oksihemoglobin dan sianmethemoglobin) dapat diterima dalam hemoglobinometri klinik. Namun, dari dua metode tersebut, metode sianmethemoglobin adalah metode yang dianjurkan oleh International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) sebab selain mudah dilakukan juga mempunyai standar yang stabil dan hampir semua hemoglobin dapat terukur, kecuali sulfhenoglobin (Subowo, 1992).

Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosit.
Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang.
·         Pria dewasa : 13.2 - 17.3 g/100 ml darah
·         Perempuan : 11.7 - 15.5 g/100 ml darah
·         Bayi baru lahir : 15.2 - 23.6 g/100 ml darah
·         Anak usia 1-3 tahun : 10.8 - 12.8 g/100 ml darah
·         Anak usia 4-5 tahun : 10.7 - 14.7 g/100 ml darah
·         Anak usia 6-10 tahun : 10.8 - 15.6 g/100 ml darah (Anonim,2012)

Golongan darah adalah hasil dari pengelompokan darah berdasarkan ada atau tidaknya substansi antigen pada permukaan sel darah merah (eritrosit). Antigen tersebut dapat berupa karbohidrat, protein, glikoprotein, atau glikolipid. Golongan darah manusia bersifat herediter, dan sangat tergantung pada golongan darah kedua orang tua manusia yang bersangkutan. Saat ini sudah dikenal puluhan sistem golongan darah, namun sistem yang paling umum dikenal di dunia hanya ada beberapa. Di antaranya adalah sistem ABO yang diperkenalkan Karl Landsteiner (1868-1943) pada tahun 1903, sistem Rhesus yang diperkenalkan Landsteiner juga pada tahun 1937, dan sistem MNS (sekretor dan nonsekretor). Darah perlu digolongkan untuk banyak kepentingan, khususnya untuk transfusi darah. Landsteiner menemukan pada tahun 1901, bahwa darah manusia yang ditransfusikan ke manusia lain dapat inkompatibel, dan menimbulkan aglutinasi (si penerima darah terlihat syok dan ikterik / kuning). Transfusi dengan darah yang inkompatibel antara donor dan resipien (penerima) dapat berakibat fatal. Selain itu, golongan darah dapat bermanfaat untuk kepentingan forensik dan penentuan ayah sebagai metode penentuan paling sederhana (walaupun metode ini sekarang sudah tergeser perannya dengan tes DNA di negara-negara maju) (Anonim,2012).
Landsteiner mulanya menemukan 3 golongan darah saja pada tahun 1900, yaitu A,B, dan O. Golongan AB baru ditemukan 2 tahun kemudian, itu pun oleh Decastrello dan Sturli (bukan oleh Landsteiner!). Atas penemuannya ini, Landsteiner mendapat hadiah Nobel di bidang kedokteran dan medis pada tahun 1930.
Golongan darah sistem ABO dibagi berdasarkan struktur antigen permukaan eritrosit, yang disebut juga sebagai aglutinogen.
  • Golongan darah A memiliki antigen permukaan A. Antigen A tersusun dari 1 molekul fukosa, 2 molekul galaktosa, 1 molekul N-asetil galaktosamin, dan 1 molekul N-asetil glukosamin.
  • Golongan darah B memiliki antigen permukaan B. Antigen B ini sedikit berbeda dengan antigen A, di mana antigen ini tersusun dari molekul N-asetil galaktosamin digantikan oleh 1 molekul galaktosa.
  • Golongan darah AB memiliki dua macam antigen permukaan, yang merupakan kombinasi dari antigen A dan antigen B.
  • Golongan darah O semula dianggap tidak memiliki antigen permukaan, namun terbukti bahwa golongan darah O masih memiliki ikatan karbohidrat pada permukaan eritrositnya yang terdiri atas 1 molekul fukosa, 1 molekul N-asetil glukosamin, dan 2 molekul galaktosa. Gugus ini tidak bersifat imunogenik, sehingga anggapan golongan darah O tidak memiliki antigen permukaan masih bisa diterima (Anonim, 2012).
Menurut Weiss dan Tvedten (2004), Metode membuat ulas darah pada slide adalah darah yang telah ditetes ke slide di sentuh menggunakan slide pelebar dengan cara menarik pelan-pelan kebelakang. Setelah kontak terjadi, slide pelebar tadi digerakkan ke depan dengan gerakan yang lembut. Ulas darah yang sudah terbentuk dikeringkan terlebih dahulu, kemudian direndam ke dalam metil alkohol selama 3-5 menit dan dikeringkan. Ulas darah yang sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam larutan giemsa 10% selama 30 menit. Setelah 30 menit, cuci slide menggunakan air kran yang mengalir selama 30 detik dan dikeringkan dari air. Untuk pemeriksaan ulas darah dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 1000 x dengan bantuan minyak imersi dengan arah pengamatan zigzag dan xylol sebagai larutan pembersih. Penghitungan differensiasi leukosit dilakukan dengan menghitung setiap jenis sel leukosit (Limfosit, monosit, netrofil band, netrofil adult, basofil, eosinofil, limfoblas, dan mieloblas) hingga mencapai jumlah 100 sel leukosit (M.Abd.Anshori1, 2011). 

III. PROSEDUR PERCOBAAN

A.                Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Uji kadar BDM
Hemoglobimeter Sahli yang terdiri atas : pipet Sahli (0,02 cc) dan penyedotnya, tabung Sahli, pipet dan pengocok, timer, aquades, alkohol 70%, jarum tusuk, dan kapas.
2.      Uji golongan darah
Serum yang mengandung anti A dan anti B, jarum penusuk jari, gelas objek, alkohol 70%, dan kapas.
3.      Uji membuat ulas darah
Gelas objek, mikroskop, metil alkohol, zat warna Giemsa atau wright atau lainnya buffer fosfat pH 6,4 - 6,7, pipet tetes, bak pewarna, xylol, minyak emersi, kertas saring, alkohol 70%, kapas dan jarum tusuk.

B.       Cara Kerja

1.      Uji  kadar BDM
·         Isikan tabung Sahli dengan larutan HCl 0,1N sampai angka 10 (garis paling tengah pada tabung)
·         Tusukan ujung jari sampai darah keluar
·         Isaplah darah kedalam pipet Sahli sampai batas garis 20mm (0,02 cc)
·         Bersihkan ujung pipet, kemudian segera masukkan darah kedalam tabung Sahli
·         Biarkan selama 3 menit agar terbentuk hematin asam yang berwarna coklat
·         Dengan pipet tambahkan aquades setetes demi setetes sambil aduk, sampai warna asam dengan warna standar ( yang ada disebelah kiri dan kanan tabung)
·         Bacalah tinggi permukaaan cairan pada tabung Sahli. Pembacaan langsung dengan melihat pada jalur gr 5, yang berarti banyaknya hemoglobin dalam gram per 100mL darah. Jalur lainnya pada tabung Sahli kalau ada, menunjukan % hemoglobin yang dihitung dibandingkan dengan hemoglobin normal (tabung normal dipakai15,6 gr %).

2.      Uji golongan darah
·         Tusuk jari dengan jarum steril
·         Tempelkan atau teteskan darah yang keluar pada gelas objek di tiga tempat
·         Dengan cepat tetesi darah dengan serum anti A dan yang lainnya dengan anti B dan larutan fisiologis sebagai kontrol (k)
·         Campurka dengan perlahan, kemudian periksa dengan menggoyang-goyangkan gelas objek perlahan-lahan ada tidaknya proses aglutinasi.

3.      Uji membuat ulas darah
·         Teteskan darah yang keluar dari ujung jari setelah ditusuk pada sebelah kaca objek ± 2 cm dari pinggir disebelah kanan
·         Pegang kedua sudut sebelah kiri kaca objek tadi dengan ibu jari dan telunjuk tangan kri (atau letakkan saja kaca objek tadi diatas meja yang rata) dengan tangan kanan pegang kaca objek lainnya (ibu jari dan keempat jari tangan kanan memegang pinggir-pinggir kaca objek) dan letakkan bagian ujung depan kaca objek ini pada kaca objek yang tadi sehingga membentuk sudut 30° didepan setetes darah tadi
·         Gerakkan kaca yang ditangan kanan kebelakang (tetap membuat sudut 30°) sampai menyinggung darah tadi, naka darah akan menyebar sepanjang sudut antara kedua kaca objek
·         Segera setelah darah menyebar, dengan hati-hati, tanpa mengangkat kaca objek (dan sudut tetap 30°) , kaca objek ditangan kanan didorong kedepan, maka akan terbentuk preparat darah ulas yang tipis
·         Keringkan diudara, kemudiaan diwarnai. 


IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Pengamatan

Dari hasil pengujian dan pengamatan  diperoleh data sebagai berikut
Tabel 1. Uji kadar BDM
Nama mahasiswa
Kadar hemoglobin
Keterangan
Sasono Handito
13,6
Normal

Tabel 2. Uji golongan darah
Tabel  2.1 golongan darah data kelas/jenis kelamin
No.
Pria
Wanita
Golongan
darah
A
B
AB
O
A
B
AB
O
Jumlah

2
7
1
3
11
9
2
18
Presentase

15%
53%
7%
23%
27%
22%
0,004%
45%
  
            Ket :    Jumlah mahasiswa  pria : 13
                        Jumlah mahasiswa wanita : 40

            Tabel 2.2 golongan darah data kelas
No.
Pria dan wanita
Golongan
darah
A
B
AB
O
Jumlah

13
16
3
21
Presentase

24,528%
30,189%
5,66%
39,623%
  
            Tabel 2.3 golongan darah data kelompok besar
No.
Pria dan wanita
Golongan
darah
A
B
AB
O
Jumlah

3
3
1
6
Presentase

23,077%
23,077%
7,692%
46,154%

            Ket :    Jumlah kelompok  13

Tabel 3. Uji pembuatan ulas darah perifer
Jenis sel
Warna
BDM
Merah tua
Leukosit
Ungu (biru tua-ungu)
Granulosit
Merah kebiruan

B.       Pembahasan
Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan.
Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosit.  Kelemahan cara ini berdasarkan kenyataan bahwa asam hematin itu bukanlah merupakan larutan sejati dan juga alat hemoglobimeter itu sukar distandarkan, selain itu tidak semua macam hemoglobin dapat diubah hematin misalnya ; karboxyhemoglobin, methemoglobin, sulfahemoglobin.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dengan sampel salah satu prakitkan diperoleh hasil kadar hemoglobin sebesar 13,6 gram/100mL darah. Berdasarkan standar Kadar hemoglobin dalam darah, keadaan tersebut masih  dalam keadaan normal.
Hemoglobin berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel darah merah dan memberi warna merah pada darah. Struktur hemoglobin yang abnormal bisa mengganggu bentuk sel darah merah dan menghambat fungsi dan aliran darah melewati pembuluh darah. beberapa kondisi yang berkaitan dengan jumlah SDM dan Hb yaitu :
1.      Jumlah SDM normal tapi kadar Hb kurang karena ukuran SDM lebih kecil daripada normal yang disebut anemia mikrositik.
2.      Jumlah SDM normal tetapi kadar Hb kurang karena kadar Hb memang kuarang     daripada normal yang disebut anemia hipokromik.
Darah perlu digolongkan untuk banyak kepentingan, khususnya untuk transfusi darah. Landsteiner menemukan pada tahun 1901, bahwa darah manusia yang ditransfusikan ke manusia lain dapat inkompatibel, dan menimbulkan aglutinasi (si penerima darah terlihat syok dan ikterik / kuning). Transfusi dengan darah yang inkompatibel antara donor dan resipien (penerima) dapat berakibat fatal. Selain itu, golongan darah dapat bermanfaat untuk kepentingan forensik dan penentuan ayah sebagai metode penentuan paling sederhana (walaupun metode ini sekarang sudah tergeser perannya dengan tes DNA di negara-negara maju).
Pada percobaan ini dilakukan pecobaan penggolangan darah dengan cara sampel darah direaksikan dengan masing-masing serum anti A, anti B , dan larutan fisiologis sebagai kontrol. Setelah dicampurkan dengan masing-masing serum kemudian memeriksa dengan proses aglutinasi.
Dari table hasil penggolongan darah untuk semua jumlah mahasiswa maka didapatkan hasil sebagi berikut:
·         Golongan darah A sebanyak 13 orang
·         Golongan darah B sebanyak 16 orang
·         Golongan darah AB sebanyak  3 orang
·         Golongan darah O    sebanyak 21 orang 

Dari kelas biologi  yang berjumlah 53 orang kebanyakan golongan darah O
yaitu yang berjumlah 21 orang, ini dikarenakan factor bawaan atau keturunan dari orang tua masing-masing dimana domina darah orang tua berdarah O.

Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi hitam yang terbentuk dari penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di dalam metanol. Pewarnaan giemsa digunakan untuk membedakan inti sel dan morfologi sitoplasma dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan parasit yang ada di dalam darah. Pewarnaan giemsa adalah teknik pewarnaan yang paling bagus digunakan untuk identifikasi parasit yang ada di dalam darah (blood-borne parasite).
Berdasarkan hasil pengamatan preparat ulas darah  dengan pewarnaan Giemsan diketahui bahwa preparat secara fisik cukup baik, bersh, rapi dan berwarna ungu. Dapat terlihat adanya leukosit. Pada preparat tampak terlihat leukosit yang ditemukan adalah neutrofil dan limfosit. Hal ini berkaitan dengan jumlah/ presentase neutrofil memang paling banyak dalam darah, yaitu mencapai 55-70% dari jumlah leukosit yang ada.
Leukosit ditunjukkan dengan sel yang memiliki inti yang berwarna ungu. Warna biru pada leukosit disebabkan karena pewarnaan yang diberikan pada saat pembuatan preparat. Inti leukosit akan menyerap warna yang bersifat basa. 
V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa mahasiswa Biologi 2010 yang bergolongan darah A sebanyak 13 orang dengan presentase 24,528 %, bergolongan darah B 16 orang dengan presentase 30,189 %, bergolongan darah AB 3 orang dengan presentase 5,66 %, dan yang bergolongan darah O sebanyak 21 orang dan memiliki nilai presentase 39,623 %.

2.      Dari kelas biologi  yang berjumlah 53 orang kebanyakan golongan darah O yaitu yang berjumlah 21 orang, ini dikarenakan factor bawaan atau keturunan  tua masing-masing dimana domina darah orang tua berdarah O.

3.    Hasil dari sampel salah satu prakitkan diperoleh hasil kadar hemoglobin sebesar 13,6 gram/100mL darah. Berdasarkan standar Kadar hemoglobin dalam darah, keadaan tersebut masih  dalam keadaan normal.

4.      Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit.

5.   Dari hasil ulas darah terlihat leukosit yang ditunjukkan dengan sel yang memiliki inti yang berwarna ungu. Warna biru pada leukosit disebabkan karena pewarnaan yang diberikan pada saat pembuatan preparat. Inti leukosit akan menyerap warna yang bersifat basa.

DAFTAR PUSTAKA

M.Abd.Anshori1, Waluyo2, Wasis Saifullah3.2011. Sistem Informasi dan Alat Pengujian Golongan Darah Sistem ABO Via SMS. Jurusan Elektro Program Studi Teknik Telekomunikasi POLINEMA.
M. Agus J. Alam, Borland Delphi 5.0 Belajar Sendiri, PT. Elex Media Computindo, Jakarta, 2000.
Subowo. 1992. Histologi umum. Jakarta: PT.Bumi Aksara.
Http://www.Aquvet.il2.Com. Diakses tanggal 19 Oktober 2012.

http:// www.hemoglobin.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2012.

http:// www.wikipediagolongandarah.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2012.

http:// www.wikipediahemoglobin.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2012.

http:// www.blog-anatomi-com. Diakses tanggal 19 Oktober 2012.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar